Rangka Narasi – PT Pertamina (Persero) resmi melakukan perombakan susunan direksi dan juga melakukan transformasi bisnis hilirnya per 1 Februari 2026 lalu. Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan, terdapat perubahan posisi pada jajaran direksi persero atau holding, khususnya pada sektor keuangan dan strategi pengembangan usaha. Pada 4 Februari 2026 lalu RUPS Pertamina resmi mengangkat Mega Satria sebagai Direktur Keuangan Pertamina, menggantikan Emma Sri Martini. Mega Satria sendiri sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Pertamina Patra Niaga.
PT Pertamina (Persero) tengah memasuki babak baru dalam sejarah organisasinya. Di bawah kepemimpinan Direktur Utama yang baru, Simon Aloysius Mantiri, perusahaan energi pelat merah ini resmi melakukan perombakan struktur bisnis yang paling signifikan sejak pembentukan holding-subholding beberapa tahun lalu. Perubahan ini ditandai dengan penggabungan (merger) tiga anak usaha raksasa di sektor hilir menjadi satu entitas tunggal yang lebih efisien dan kompetitif.
Bos Pertamina Beberkan Perubahan Struktur Bisnis
Langkah strategis ini bukan sekadar pergantian posisi jabatan, melainkan upaya fundamental untuk menghadapi tantangan global yang semakin dinamis dan menekan margin keuntungan industri minyak dan gas. Inti dari perubahan struktur bisnis terbaru ini adalah pembentukan Subholding Downstream (SHD). Entitas baru ini merupakan hasil integrasi tiga anak perusahaan utama Pertamina, yaitu.
- PT Kilang Pertamina Internasional (KPI): Fokus pada pengolahan minyak mentah.
- PT Pertamina Patra Niaga (PPN): Fokus pada distribusi dan niaga BBM serta LPG.
- PT Pertamina International Shipping (PIS): Fokus pada logistik dan pengangkutan laut.
Bos Pertamina menjelaskan bahwa selama ini, ketiga entitas tersebut bekerja secara terpisah meskipun berada dalam rantai nilai yang sama. Dengan penggabungan ini, proses bisnis mulai dari pengolahan di kilang, pengangkutan oleh armada kapal, hingga penjualan di SPBU kini berada di bawah satu komando manajemen. Hal ini diharapkan dapat menghilangkan tumpang tindih operasional yang selama ini membebani biaya perusahaan.
Alasan Strategis Efisiensi Dan Daya Saing Global
Dalam paparannya, manajemen Pertamina menekankan bahwa restrukturisasi ini didorong oleh kondisi pasar global yang kurang menguntungkan. Penurunan permintaan energi di beberapa sektor dan meningkatnya produksi kilang baru di tingkat internasional telah menekan margin usaha.
“Tujuannya adalah agar Pertamina lebih lincah (agile). Dengan struktur yang ramping, kita bisa menurunkan biaya operasional (opex) dan meningkatkan profitabilitas perusahaan secara konsolidasi,” ujar manajemen dalam pengumuman resminya.
Selain itu, struktur baru ini dirancang untuk mendukung arahan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Sebagai lembaga yang menaungi investasi strategis negara, Danantara menginginkan BUMN seperti Pertamina memiliki struktur yang setara dengan perusahaan energi kelas dunia lainnya yang cenderung mengintegrasikan sektor hilir mereka untuk memaksimalkan nilai tambah.
Dampak Pada Manajemen Dan SDM
Perubahan struktur ini juga diikuti dengan penetapan jajaran direksi dan komisaris baru pada Februari 2026. Mars Ega Legowo Putra telah ditetapkan sebagai Direktur Utama Subholding Downstream, didampingi oleh jajaran profesional yang ahli di bidang transformasi digital dan keberlanjutan.
Transformasi ini tidak hanya menyasar level atas, tetapi juga budaya kerja. Pertamina menargetkan digitalisasi penuh di seluruh rantai pasok hilir. Dengan manajemen yang terintegrasi, pemantauan stok BBM nasional dan efisiensi pengiriman kapal dapat dilakukan secara real-time, meminimalisir risiko kelangkaan energi di pelosok negeri.
Meskipun fokus saat ini adalah penguatan bisnis legacy (minyak dan gas), struktur bisnis baru ini juga disiapkan sebagai landasan transisi energi. Subholding Downstream diberikan mandat untuk mulai mengintegrasikan produk bioenergi, seperti biodiesel dan Sustainable Aviation Fuel (SAF), ke dalam jaringan distribusi yang sudah ada.
