Digitalisasi Bikin Bisnis F&B RI Lebih Canggih Dari Malaysia CS

Digitalisasi Bikin Bisnis F&B RI Lebih Canggih Dari Malaysia CS

Rangka Narasi – Perkembangan teknologi digitalisasi turut mendorong PT Esensi Solusi Buana (ESB) mengembangkan aplikasi digital untuk sistem operasional terintegrasi berbasis cloud (SaaS) yang dapat digunakan untuk bisnis kuliner (F&B). Co-Founder & CEO PT Esensi Solusi Buana (ESB), Gunawan Woen menyebutkan sistem operasional terintegrasi berbasis cloud (SaaS) EBS dikembangkan sejak tahun 2018.

Dimana pemanfaatan teknologi dalam bisnis F&B Indonesia dinilai sudah lebih maju dibanding negara jiran seperti Malaysia dan Singapura. Lewat digitalisasi, operasi restoran sudah mampu lebih efisien dan terintegrasi sehingga bisa mendorong ekspansi bisnis. Seperti apa pengembangan layanan aplikasi digital SaaS bagi bisnis F&B? Selengkapnya simak dialog Serliana Salsabila dengan Co-Founder & CEO PT Esensi Solusi Buana (ESB), Gunawan Woen di Profit, CNBC Indonesia,Senin, 09/02/2026.

Ekosistem Pembayaran Digital Yang Terintegrasi

Salah satu pilar utama kecanggihan F&B Indonesia adalah adopsi QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang sangat masif. Berbeda dengan Malaysia yang masih memiliki beberapa standar pembayaran digital yang terfragmentasi, Indonesia berhasil menyatukan seluruh kanal pembayaran dalam satu kode tunggal. Dari pedagang kaki lima hingga restoran bintang lima, integrasi ini menciptakan aliran arus kas yang transparan dan memudahkan pengusaha memantau pendapatan secara real-time.

Kecanggihan ini memberikan keunggulan data. Dengan transaksi digital, pemilik bisnis F&B di Indonesia dapat memetakan perilaku konsumen dengan jauh lebih akurat. Mereka tahu kapan jam sibuk terjadi, menu apa yang paling laku, hingga profil demografis pelanggan mereka. Data ini kemudian diolah menjadi strategi pemasaran yang sangat personal, sesuatu yang masih terus dikejar oleh pelaku industri di Malaysia.

Dominasi Super-Apps Dan Layanan Pengantaran

Indonesia memiliki keunikan dalam hal kepadatan ekosistem super-apps. Kehadiran Gojek dan Grab yang bersaing ketat memaksa lahirnya inovasi layanan yang sangat efisien. Fitur seperti cloud kitchen (dapur satelit) tumbuh subur di Indonesia jauh lebih cepat daripada di Kuala Lumpur. Model bisnis ini memungkinkan pengusaha F&B untuk berekspansi tanpa harus membuka gerai fisik yang mahal, cukup dengan memanfaatkan data lokasi dari platform pengantaran untuk menentukan titik permintaan tertinggi.

Transformasi Operasional Dari POS ke AI

Di sisi operasional, penggunaan sistem Point of Sale (POS) berbasis cloud di Indonesia telah berevolusi menjadi platform manajemen bisnis yang utuh. Startup lokal seperti Moka, Majoo, dan ESB menyediakan layanan yang mencakup manajemen inventaris otomatis, integrasi pemasok, hingga manajemen loyalitas pelanggan (CRM).

Kecanggihan ini terlihat dari cara restoran mengelola stok bahan baku. Di Indonesia, banyak brand F&B besar yang sudah menggunakan algoritma prediksi berbasis AI untuk menentukan jumlah pesanan bahan baku ke pemasok guna meminimalkan limbah makanan (food waste). Efisiensi ini secara langsung berdampak pada margin keuntungan yang lebih sehat dibandingkan model operasional tradisional yang masih dominan di banyak wilayah Malaysia.

Pemanfaatan Media Sosial Sebagai Etalase Interaktif

Karakteristik konsumen Indonesia yang sangat aktif di media sosial juga mendorong pebisnis F&B lokal untuk lebih kreatif dalam digitalisasi pemasaran. Penggunaan chatbot WhatsApp untuk pemesanan langsung serta integrasi TikTok Shop untuk produk ready-to-eat menunjukkan bahwa Indonesia lebih adaptif dalam memanfaatkan kanal-kanal baru. Di Malaysia, meski penetrasi internet tinggi, adaptasi belanja F&B melalui platform sosial belum se-agresif dan se-inovatif di Indonesia.

Kesimpulan Menatap Masa Depan

Digitalisasi telah memberikan “lompatan katak” (leapfrogging) bagi industri F&B Indonesia. Dengan didukung oleh populasi muda yang melek teknologi dan regulasi pemerintah yang suportif terhadap ekonomi digital, Indonesia tidak hanya sekadar mengikuti tren, tetapi mulai menetapkan standar baru di kawasan. Jika tren ini berlanjut, Indonesia akan terus memimpin sebagai laboratorium inovasi F&B di Asia Tenggara, meninggalkan negara-negara tetangga yang mungkin masih terjebak dalam model bisnis konvensional.