Rangka Narasi – Hasnur Group menegaskan pentingnya peran manusia, budaya, dan tata kelola sebagai fondasi utama pertumbuhan perusahaan dan transformasi berkelanjutan dalam menghadapi tantangan bisnis pada 2026. Pesan tersebut disampaikan dalam Townhall Hasnur Group 2026 yang mengusung tema Living Our Values, Innovating Through the Change. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk menyelaraskan arah perusahaan, memperkuat budaya kerja.
Serta menunjukkan kesiapan Hasnur Group sebagai grup usaha terdiversifikasi dalam menghadapi dinamika industri, ketidakpastian global, serta meningkatnya tuntutan tata kelola dan keberlanjutan. Townhall diawali dengan pembacaan doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Tujuh Nilai Inti Hasnur Group sebagai penegasan fondasi budaya perusahaan.
Strategi Hasnur Group Hadapi Tantangan Bisnis 2026
Memasuki tahun 2026, lanskap bisnis global dan nasional diwarnai oleh ketidakpastian ekonomi, transisi energi yang semakin cepat, serta disrupsi teknologi digital yang tidak terbendung. Menanggapi situasi ini, Hasnur Group, sebagai salah satu konglomerasi bisnis terkemuka di Indonesia, telah mengambil langkah proaktif dengan menyiapkan tim yang tangguh dan tata kelola perusahaan yang adaptif. Fokus utama perusahaan bukan lagi sekadar bertahan, melainkan melakukan transformasi fundamental untuk memastikan pertumbuhan berkelanjutan di berbagai sektor, mulai dari pertambangan, infrastruktur, hingga media dan olahraga.
Peningkatan Kualitas Tim SDM Sebagai Mesin Pertumbuhan
Hasnur Group menyadari bahwa di tahun 2026, keunggulan kompetitif tidak lagi hanya ditentukan oleh aset fisik, melainkan oleh kapabilitas sumber daya manusianya. Perusahaan telah meluncurkan inisiatif pengembangan kepemimpinan yang intensif untuk menciptakan jajaran manajemen yang memiliki karakter “intrapreneurial”.
Penyusunan tim untuk tahun 2026 fokus pada tiga pilar utama:
- Literasi Digital dan AI: Memastikan seluruh unit bisnis memiliki tenaga ahli yang mampu mengintegrasikan kecerdasan buatan dalam pengambilan keputusan operasional.
- Agilitas Organisasi: Membentuk tim lintas fungsi yang mampu merespons perubahan harga komoditas global dengan cepat dan akurat.
- Internalisasi Nilai Perusahaan: Memperkuat filosofi “Bakti Bangsa” agar setiap anggota tim bekerja dengan dedikasi tinggi bagi kemajuan daerah, khususnya di Kalimantan Selatan dan Indonesia pada umumnya.
Dengan tim yang solid, Hasnur Group optimis dapat melakukan diversifikasi usaha yang lebih luas, sehingga ketergantungan pada sektor tertentu dapat diminimalisir melalui inovasi-inovasi baru yang lahir dari internal perusahaan.
Tata Kelola Perusahaan GCG Berbasis Keberlanjutan
Tantangan bisnis tahun 2026 sangat erat kaitannya dengan standar ESG (Environmental, Social, and Governance) yang semakin ketat. Hasnur Group merespons hal ini dengan memperketat tata kelola perusahaan melalui transparansi dan akuntabilitas yang lebih tinggi. Implementasi sistem manajemen risiko terintegrasi menjadi prioritas untuk memitigasi dampak fluktuasi pasar dan regulasi lingkungan yang baru.
Tata kelola yang disiapkan mencakup digitalisasi pelaporan keuangan dan operasional secara real-time. Hal ini memungkinkan jajaran direksi untuk memantau kinerja setiap anak perusahaan secara akurat dan transparan. Selain itu, kepatuhan terhadap standar internasional dalam proses bisnis menjadi harga mati bagi Hasnur Group untuk menarik lebih banyak kemitraan strategis dengan investor global yang sangat peduli pada isu-isu keberlanjutan.
Menghadapi Transisi Energi Dan Ekonomi Hijau
Salah satu tantangan terbesar di tahun 2026 adalah pergeseran dunia menuju energi hijau. Hasnur Group, yang memiliki akar kuat di industri pertambangan, telah menyiapkan peta jalan (roadmap) untuk mengintegrasikan teknologi ramah lingkungan dalam proses produksinya. Penyiapan tim khusus di bidang energi baru terbarukan (EBT) menjadi bukti nyata bahwa perusahaan sedang berevolusi.
Tata kelola bisnis ke depan juga diarahkan pada efisiensi penggunaan sumber daya dan pengurangan jejak karbon. Perusahaan mengalokasikan investasi yang signifikan untuk pembaruan alat berat dan infrastruktur logistik yang lebih hemat energi. Langkah ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi regulasi pemerintah, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional jangka panjang.
