PwC Survei 2025, 63% Bisnis Keluarga di Indonesia Tertekan Volatilitas Ekonomi

PwC Survei 2025, 63% Bisnis Keluarga di Indonesia Tertekan Volatilitas Ekonomi

Rangkanarasi.com — Hasil survei PricewaterhouseCoopers (PwC) tahun 2025 menunjukkan bahwa 63% bisnis keluarga di Indonesia menghadapi tekanan akibat volatilitas ekonomi. Fluktuasi pasar global, perubahan harga komoditas, serta ketidakpastian nilai tukar menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja usaha keluarga. Para pengusaha menilai bahwa adaptasi cepat dan strategi mitigasi risiko menjadi kunci agar bisnis tetap bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi yang meningkat.

Survei PwC mencatat bahwa banyak pemilik bisnis keluarga mengambil langkah diversifikasi usaha dan efisiensi operasional sebagai strategi menghadapi tekanan ekonomi. Diversifikasi produk dan layanan membantu mengurangi risiko ketergantungan pada satu sumber pendapatan, sementara efisiensi biaya operasional menjaga margin keuntungan tetap stabil. Beberapa perusahaan juga mulai mengadopsi teknologi digital untuk meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, dan mempermudah manajemen internal.

Baca juga : Home Credit Adakan Literasi Keuangan di Unpar Dorong Finansial Sehat

Hasil survei menunjukkan adanya perhatian terhadap peran generasi penerus dalam bisnis keluarga. Pemilik usaha menyadari pentingnya transfer pengetahuan, keahlian manajerial, dan pemahaman tentang risiko ekonomi kepada generasi berikutnya. PwC menekankan bahwa kesiapan generasi penerus menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan bisnis keluarga, terutama saat menghadapi volatilitas pasar yang tinggi.

Inflasi yang meningkat dan fluktuasi suku bunga menjadi tantangan signifikan bagi bisnis keluarga. Harga bahan baku yang naik memengaruhi biaya produksi, sementara perubahan suku bunga memengaruhi pembiayaan dan likuiditas perusahaan. Sebagian besar responden survei mengakui bahwa mereka perlu strategi keuangan yang matang untuk mengelola modal kerja, pembiayaan utang, dan arus kas agar bisnis tetap stabil.

PwC mencatat bahwa bisnis keluarga yang lebih adaptif terhadap teknologi mampu menghadapi ketidakpastian ekonomi dengan lebih baik. Penggunaan sistem manajemen digital, e-commerce, dan solusi bisnis berbasis data memungkinkan perusahaan mengambil keputusan lebih cepat dan tepat. Digitalisasi juga membuka peluang pasar baru, memperkuat komunikasi dengan pelanggan, serta mengefisienkan proses operasional.

Dalam menghadapi tantangan ekonomi, kolaborasi menjadi strategi penting. Banyak bisnis keluarga menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan lain, baik untuk distribusi, produksi, maupun pengembangan produk. PwC menekankan bahwa jaringan yang kuat dan kemitraan yang tepat dapat mengurangi risiko, meningkatkan daya saing, dan memperkuat posisi bisnis di pasar yang fluktuatif.

Survei menyoroti bahwa kesadaran terhadap risiko bisnis semakin tinggi di kalangan pemilik usaha keluarga. Mereka memahami pentingnya perencanaan kontinjensi, pengelolaan risiko pasar, dan pengawasan keuangan yang ketat. PwC menyarankan agar bisnis keluarga melakukan evaluasi risiko secara berkala, mengidentifikasi titik lemah, dan menyiapkan strategi mitigasi untuk menjaga keberlanjutan usaha.

Pemilik bisnis keluarga menilai dukungan pemerintah sangat penting dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi. Insentif fiskal, kemudahan akses pembiayaan, dan kebijakan stabilitas ekonomi menjadi faktor yang membantu perusahaan tetap bertahan. PwC menyarankan agar pemerintah terus memperkuat regulasi, memberikan stimulus untuk usaha kecil dan menengah, serta mendorong digitalisasi di sektor usaha keluarga.

Meskipun tekanan ekonomi tinggi, banyak pemilik bisnis keluarga optimistis terhadap masa depan. Strategi jangka panjang yang melibatkan diversifikasi, penguatan generasi penerus, adopsi teknologi, dan mitigasi risiko menjadi fokus utama. PwC menekankan bahwa ketahanan bisnis keluarga tidak hanya bergantung pada performa keuangan saat ini, tetapi juga pada kesiapan menghadapi perubahan pasar dan ketidakpastian global.

Survei PwC 2025 menegaskan bahwa 63% bisnis keluarga di Indonesia merasakan dampak ketidakpastian ekonomi. Namun, langkah proaktif seperti diversifikasi usaha, efisiensi operasional, adopsi teknologi, dan persiapan generasi penerus membantu meningkatkan ketahanan. Sinergi antara manajemen internal, kemitraan strategis, dan dukungan kebijakan pemerintah menjadi kunci agar bisnis keluarga mampu bertahan dan berkembang di era ekonomi yang penuh volatilitas.