Arahan Terbaru Prabowo ke Danantara Siapkan Skema Bisnis Bioskop

Arahan Terbaru Prabowo ke Danantara Siapkan Skema Bisnis Bioskop

Rangka Narasi — Presiden terpilih Prabowo Subianto kembali menegaskan komitmennya terhadap penguatan ekosistem industri kreatif nasional. Dalam arahan terbarunya kepada Danantara, sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang dibentuk untuk mengelola ekosistem digital dan budaya, Prabowo meminta lembaga tersebut menyiapkan skema Bisnis Bioskop nasional yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya minat publik terhadap film Indonesia, tetapi tidak diimbangi dengan jumlah layar bioskop yang memadai. Sebagian besar bioskop masih terkonsentrasi di kota besar, sementara daerah tingkat dua dan tiga belum tersentuh secara optimal. Prabowo ingin mengubah kondisi tersebut melalui model bisnis baru yang lebih inklusif.

Tingginya Potensi Pasar Film Indonesia

Dalam beberapa tahun terakhir, film Indonesia mengalami peningkatan pesat. Rekor penonton terus bermunculan, produksi film lokal makin beragam, dan industri semakin menarik minat investor. Namun hambatan terbesar terletak pada keterbatasan akses bioskop.

Indonesia hanya memiliki sekitar 2.000 layar bioskop—jumlah yang masih tertinggal jauh dibanding negara dengan populasi besar lainnya. Banyak daerah belum memiliki fasilitas pemutaran film yang layak, membuat pangsa pasar yang sebenarnya sangat luas belum tergarap maksimal.

Prabowo menilai bahwa momentum ini harus dimanfaatkan dengan membangun jaringan bioskop nasional yang lebih merata, efisien, serta mengutamakan film lokal.

Arahan: Model Bisnis Berbasis Pemerataan dan Teknologi

Dalam pertemuan antara Prabowo dan jajaran Danantara, ia menekankan tiga fokus utama dalam penyusunan skema bisnis bioskop nasional:

  1. Pemerataan akses – bioskop harus hadir di kota kecil, kabupaten, hingga kawasan terpencil yang selama ini tidak tersentuh jaringan komersial besar.
  2. Teknologi digital – penggunaan teknologi streaming lokal, sistem ticketing terintegrasi, hingga pemutaran film menggunakan proyektor digital hemat energi.
  3. Kolaborasi industri – menggandeng sineas lokal, UMKM, hingga pelaku industri film daerah agar bioskop juga menjadi pusat aktivitas budaya.

Prabowo menyebut model ini harus dirancang agar feasible secara bisnis namun tetap memenuhi misi negara untuk meningkatkan literasi film dan budaya.

Danantara Mulai Susun Rancangan Model Operasional

Menindaklanjuti arahan tersebut, manajemen Danantara mulai menyusun blueprint model bisnis bioskop yang akan diimplementasikan dalam beberapa fase. Fokus awal adalah membangun bioskop modular yang biaya operasionalnya jauh lebih rendah dibanding jaringan besar.

Bioskop modular ini bisa menggunakan bangunan eksisting seperti gedung serbaguna, ruko, atau pusat komunitas. Model tersebut memungkinkan biaya investasi ditekan hingga 40 persen, sehingga proyek dapat diperbanyak di banyak lokasi.

Selain itu, Danantara akan memanfaatkan platform digital nasional untuk integrasi pemutaran film, distribusi konten, dan manajemen operasional secara real time.

Target 500 Layar Baru Dalam Lima Tahun

Dalam arahan lanjutan, Prabowo meminta agar Danantara menargetkan setidaknya 500 layar baru di seluruh Indonesia dalam lima tahun pertama. Jumlah ini dinilai realistis jika perusahaan mampu bermitra dengan pemerintah daerah dan swasta.

Penempatan layar baru akan difokuskan pada:

  • Kabupaten tanpa bioskop
  • Daerah industri dan kawasan pendidikan
  • Pusat pertumbuhan ekonomi baru
  • Wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar)

Danantara sedang menyiapkan studi lokasi, pemetaan potensi penonton, serta perhitungan biaya per layar agar proyek dapat berjalan efisien.

Peluang Besar bagi Sineas Lokal

Salah satu tujuan utama Prabowo adalah memastikan film Indonesia mendapatkan panggung lebih luas. Dengan penambahan layar, produksi film lokal diproyeksikan meningkat karena distribusi menjadi lebih mudah.

Bioskop yang dikelola Danantara juga akan mengalokasikan minimal 50 persen slot untuk film Indonesia, termasuk karya sineas daerah. Hal ini bertujuan menciptakan ekosistem kreatif yang berkembang dari pusat hingga daerah.

Prabowo percaya bahwa keberagaman budaya Indonesia adalah kekuatan besar yang harus diperkenalkan lewat film, dan jaringan bioskop nasional dapat menjadi alat penyebaran yang efektif.

Kolaborasi dengan UMKM dan Komunitas Daerah

Model bisnis bioskop yang disiapkan Danantara juga melibatkan UMKM lokal. Mulai dari kuliner, merchandise, hingga pengelolaan ruang komunitas, seluruhnya akan mengajak pelaku usaha kecil untuk berpartisipasi.

Bioskop tidak hanya menjadi tempat menonton film, tetapi pusat kegiatan budaya seperti diskusi film, kelas kreatif, hingga festival film daerah. Konsep ini diharapkan meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus memperkuat identitas budaya lokal.

Prabowo menekankan bahwa bioskop Danantara harus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar, bukan hanya sekadar proyek hiburan.

Industri Optimistis, Investor Mulai Melirik

Kabar mengenai rencana ini menumbuhkan optimisme di kalangan pelaku industri film. Produser, sutradara, dan investor menilai perluasan jaringan bioskop akan membuat film lokal lebih kompetitif dan tidak lagi bergantung pada dominasi kota besar.

Beberapa perusahaan film bahkan telah menyatakan minat bekerja sama dengan Danantara dalam distribusi konten. Kolaborasi ini dinilai dapat membuka peluang bisnis baru dan menciptakan model ekonomi kreatif yang lebih sehat.

Menuju Era Baru Perfilman Indonesia

Arahan Prabowo kepada Danantara menandai babak baru dalam pembangunan ekosistem perfilman Indonesia. Jika skema bisnis bioskop nasional ini berhasil dijalankan, Indonesia dapat mengejar ketertinggalan jumlah layar, memperluas pasar film lokal, serta memperkuat budaya menonton di seluruh daerah.

Dengan rencana yang terstruktur, target yang jelas, dan dukungan pemerintah, industri film Indonesia diprediksi memasuki fase pertumbuhan besar dalam beberapa tahun ke depan.