Rekor Baru, Kredit Properti Tembus Rp 1.000 Triliun

Rekor Baru, Kredit Properti Tembus Rp 1.000 Triliun

Rangka NarasiSektor properti nasional kembali mencatatkan tonggak sejarah penting. Untuk pertama kalinya, total kredit properti di Indonesia menembus angka Rp 1.000 triliun, menandai kebangkitan signifikan industri perumahan dan real estat setelah beberapa tahun menghadapi tekanan ekonomi global. Capaian ini menjadi sinyal kuat meningkatnya kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional.

Lonjakan Kredit Properti Jadi Sinyal Pemulihan

Berdasarkan data perbankan terbaru, kredit properti yang mencakup Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Pemilikan Apartemen (KPA), serta kredit konstruksi dan real estat terus mengalami pertumbuhan konsisten sepanjang 2025 hingga awal 2026. Kenaikan ini dipicu oleh meningkatnya permintaan hunian, stabilnya suku bunga, serta dukungan kebijakan pemerintah.

Ekonom properti menilai tembusnya angka Rp 1.000 triliun sebagai indikator pemulihan sektor riil. “Properti adalah sektor dengan efek berganda tinggi. Ketika kredit properti tumbuh, maka sektor lain seperti konstruksi, semen, baja, hingga UMKM ikut bergerak,” ujar pengamat ekonomi properti, Rudi Hartono.

Peran Suku Bunga dan Insentif Pemerintah

Salah satu faktor utama pendorong lonjakan kredit properti adalah kebijakan suku bunga yang relatif terjaga. Bank Indonesia mempertahankan stabilitas moneter sehingga bunga KPR tetap kompetitif dan terjangkau bagi masyarakat.

Selain itu, pemerintah juga memperpanjang sejumlah insentif, seperti Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian rumah tertentu. Kebijakan ini terbukti efektif mendorong minat masyarakat, khususnya pembeli rumah pertama.

“Insentif PPN dan kemudahan KPR membuat masyarakat lebih berani mengambil keputusan membeli rumah,” kata Direktur Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPR dalam keterangannya.

Permintaan Hunian Meningkat di Perkotaan dan Penyangga

Pertumbuhan kredit properti tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga merambah kawasan penyangga dan daerah berkembang. Kawasan Jabodetabek, Bandung Raya, Surabaya, dan Medan masih menjadi kontributor utama, namun kota-kota satelit seperti Bekasi, Bogor, Tangerang, hingga kawasan industri baru juga mencatat peningkatan signifikan.

Hunian tapak dengan harga menengah menjadi segmen paling diminati, seiring meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kepemilikan rumah sebagai aset jangka panjang. Apartemen kelas menengah juga mulai kembali dilirik, terutama di kawasan dengan akses transportasi publik yang baik.

Perbankan Agresif Salurkan Kredit

Tembusnya kredit properti Rp 1.000 triliun tidak terlepas dari peran perbankan yang semakin agresif menyalurkan pembiayaan. Bank-bank nasional berlomba menawarkan skema KPR dengan bunga tetap, tenor panjang, dan uang muka ringan.

“Persaingan perbankan membuat produk KPR semakin inovatif dan ramah konsumen. Ini mendorong penyaluran kredit lebih cepat,” ujar seorang bankir senior dari bank BUMN.

Namun demikian, perbankan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dengan seleksi ketat terhadap profil risiko debitur, guna menjaga kualitas kredit tetap sehat.

Dampak Positif bagi Industri Turunan

Pertumbuhan kredit properti berdampak langsung pada industri turunan, seperti konstruksi, bahan bangunan, interior, hingga jasa arsitektur. Proyek-proyek perumahan baru membuka lapangan kerja dan meningkatkan perputaran ekonomi di daerah.

Pelaku industri bahan bangunan mengakui adanya peningkatan permintaan. “Penjualan semen dan material konstruksi ikut terdongkrak seiring meningkatnya pembangunan rumah,” ujar perwakilan asosiasi industri konstruksi.

Efek domino ini menjadikan sektor properti sebagai salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Tantangan di Tengah Optimisme

Meski mencetak rekor baru, sektor properti tetap menghadapi sejumlah tantangan. Kenaikan harga tanah, biaya konstruksi, serta ketidakpastian ekonomi global masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai.

Selain itu, kesenjangan akses perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah masih menjadi pekerjaan rumah besar. Pemerintah dan perbankan didorong untuk terus memperkuat program perumahan subsidi agar pertumbuhan kredit tidak hanya dinikmati segmen menengah ke atas.

“Pertumbuhan harus inklusif. Rumah layak dan terjangkau tetap menjadi prioritas,” tegas pengamat kebijakan publik, Diah Lestari.

Prospek Kredit Properti ke Depan

Dengan fundamental ekonomi yang relatif stabil dan kebutuhan hunian yang terus meningkat, prospek kredit properti dinilai masih positif sepanjang 2026. Digitalisasi layanan KPR, kolaborasi pengembang dengan perbankan, serta pengembangan kawasan terpadu diperkirakan akan semakin mendorong pertumbuhan.

Analis memperkirakan kredit properti masih berpotensi tumbuh satu digit tinggi hingga dua digit moderat, selama stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat tetap terjaga.

Tembusnya kredit properti hingga Rp 1.000 triliun menjadi pencapaian bersejarah bagi sektor perumahan Indonesia. Rekor ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan masyarakat, dukungan kebijakan pemerintah, serta peran aktif perbankan dalam mendorong pembiayaan.

Di tengah tantangan global, sektor properti kembali menunjukkan perannya sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan strategi yang tepat dan kebijakan yang berkelanjutan, kredit properti diharapkan tidak hanya terus tumbuh, tetapi juga mampu menghadirkan hunian yang layak, terjangkau, dan inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.