Rangka Narasi — Kalimantan Timur (Kaltim) kembali mencatat penurunan nilai ekspor pada November 2025. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, total nilai ekspor provinsi ini tercatat sekitar USD 1,95 miliar, menurun 3,2% dibandingkan Oktober 2025. Penurunan ini menjadi sorotan karena Kaltim merupakan salah satu provinsi penyumbang devisa utama dari sektor energi dan komoditas primer.
Meski mengalami penurunan, ekspor Kaltim masih bertahan berkat kontribusi batu bara, yang menjadi penyelamat utama dalam menahan laju penurunan. Sektor lain, termasuk minyak sawit, kayu olahan, dan karet, justru mengalami penurunan signifikan karena permintaan global melemah.
Batu Bara Tetap Menjadi Andalan
Batu bara kembali menjadi tulang punggung ekspor Kaltim. Menurut Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kaltim, Arif Hidayat, harga batu bara yang masih stabil di pasar internasional membantu menahan tekanan penurunan ekspor.
“Tanpa batu bara, penurunan ekspor provinsi ini akan lebih tajam. Komoditas ini menjadi penyelamat tunggal,” ujarnya.
Mayoritas batu bara Kaltim diekspor ke negara-negara Asia seperti China, Jepang, dan India, yang masih mengandalkan energi fosil. Kenaikan permintaan dari konsumen global menjadikan batu bara sebagai penyelamat ekonomi lokal di tengah gejolak pasar internasional.
Sektor Non-Energi Masih Tertekan
Sektor non-energi Kaltim, termasuk CPO (Crude Palm Oil), kayu olahan, dan karet, mengalami tekanan signifikan. Penurunan permintaan di pasar ekspor, harga komoditas yang fluktuatif, dan biaya logistik tinggi menjadi faktor utama.
Ekonom dari Universitas Mulawarman, Dr. Rendra Putra, menekankan perlunya diversifikasi ekspor non-energi.
“Kaltim tidak boleh terlalu bergantung pada batu bara. Industri pengolahan kayu dan hilirisasi CPO harus ditingkatkan agar ekspor lebih stabil,” kata Dr. Rendra.
Perbandingan dengan Provinsi Lain
Penurunan ekspor Kaltim pada November 2025 lebih signifikan dibandingkan beberapa provinsi lain. Misalnya, Sulawesi Selatan dan Jawa Timur masih mencatat pertumbuhan ekspor tipis 1-2%, terutama dari sektor industri manufaktur dan perikanan.
Ketergantungan tinggi Kaltim pada batu bara membuat provinsi ini lebih rentan terhadap fluktuasi harga global. Sementara provinsi lain dengan sektor manufaktur lebih bervariasi mampu menjaga stabilitas ekspor meski menghadapi tantangan ekonomi.
Kebijakan Pemerintah untuk Memulihkan Ekspor
Pemerintah pusat dan daerah telah menyiapkan beberapa langkah untuk mendorong ekspor Kaltim. Beberapa di antaranya:
- Peningkatan efisiensi pelabuhan dan logistik untuk menekan biaya ekspor.
- Insentif pajak ekspor bagi komoditas strategis dan produk hilir.
- Promosi pasar ekspor baru ke Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Eropa.
Gubernur Kaltim, H. Isran Noor, menegaskan, “Meskipun batu bara masih menjadi tulang punggung ekspor, pemerintah mendorong penguatan sektor non-energi agar perekonomian provinsi lebih stabil dan berkelanjutan.”
Proyeksi Desember 2025
Analis memprediksi tren penurunan ekspor Kaltim mungkin berlanjut hingga Desember 2025, terutama jika harga komoditas non-energi tetap rendah. Batu bara diperkirakan tetap menjadi penopang utama.
Ekonom senior, Dr. Mira Anggraeni, menyarankan Kaltim mempercepat transformasi ekonomi, termasuk mengolah batu bara menjadi produk turunan seperti gasifikasi atau energi terbarukan, untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi risiko ketergantungan pada harga global.
Dampak Penurunan Ekspor terhadap Perekonomian Lokal
Penurunan ekspor berdampak pada sektor terkait, termasuk logistik, pelabuhan, dan UMKM yang bergerak di industri kayu dan minyak sawit. Beberapa pelaku usaha melaporkan berkurangnya volume kargo dan penurunan permintaan ekspor.
Meski demikian, kontribusi batu bara tetap membantu penerimaan daerah. Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pertambangan relatif stabil, mendukung pembiayaan pembangunan infrastruktur dan program sosial di Kaltim.
Batu Bara Menjadi Penyelamat, Diversifikasi Tetap Mendesak
Ekspor Kaltim November 2025 menunjukkan penurunan yang menjadi alarm bagi ekonomi provinsi. Batu bara tetap menjadi penyelamat tunggal, namun ketergantungan yang tinggi menimbulkan risiko besar jika terjadi gejolak harga di pasar global.
Pemerintah dan pelaku usaha perlu mendorong diversifikasi sektor ekspor, memperkuat industri pengolahan, dan membuka pasar baru. Transformasi ini menjadi kunci agar Kaltim tidak hanya mengandalkan batu bara, tetapi juga mampu menghadapi tantangan ekonomi global di masa depan.
