Dukung Iran, China Minta Amerika Serikat Tak Ikut Campur

Dukung Iran, China Minta Amerika Serikat Tak Ikut Campur

Rangka NarasiPemerintah China secara tegas mendukung upaya Iran menjaga stabilitas nasional dan meminta Amerika Serikat (AS) untuk tidak ikut campur dalam urusan dalam negeri Republik Islam tersebut. Pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing pada 12 Januari 2026. Pernyataan itu muncul di tengah meningkatnya gejolak sosial dan ketegangan internasional yang melibatkan Iran dan kritik keras Washington terhadap Teheran.

China berharap pemerintah dan rakyat Iran dapat segera mengatasi demonstrasi dan menjaga kedamaian. Lebih jauh, Beijing menegaskan prinsip non‑intervensi sebagai bagian dari kebijakan luar negeri yang konsisten, termasuk menolak campur tangan militer atau politik dari pihak luar, khususnya AS.

Ketegangan Iran–AS Meningkat, AS Perintahkan Warganya Tinggalkan Iran

Protes besar telah mengguncang Iran sejak akhir Desember 2025 akibat tekanan ekonomi, termasuk merosotnya nilai rial dan lonjakan harga kebutuhan pokok, yang memicu aksi massa di berbagai kota. Sementara otoritas Iran berusaha mengamankan situasi, ketegangan eksternal meningkat ketika AS memperingatkan warganya untuk segera meninggalkan Iran karena kekerasan yang memburuk.

Pemerintah AS juga mengevaluasi berbagai opsi kebijakan terhadap Iran, termasuk kemungkinan penerapan sanksi tambahan atau langkah strategis lain, yang kerap dipandang Teheran dan Beijing sebagai bentuk tekanan luar. Hal ini memperburuk iklim diplomatik antara Washington, Teheran, dan Beijing.

Sikap China: Menolak Campur Tangan AS

Dalam konteks ini, Mao Ning menekankan bahwa China secara konsisten menolak setiap upaya campur tangan dalam urusan dalam negeri negara lain. Beijing tidak hanya menyerukan non‑intervensi tetapi juga menegaskan dukungan terhadap upaya Iran dalam mencapai stabilitas domestik tanpa tekanan asing. Pernyataan ini mencerminkan kesehatan hubungan diplomatik antara China dan Iran sekaligus menjadi kritik halus terhadap kebijakan keras AS.

Selain itu, Beijing juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kemungkinan eskalasi militer, sambil menyatakan harapannya agar semua pihak berusaha menyelesaikan konflik melalui dialog dan negosiasi damai.

Latar Belakang Ketegangan: Sanksi dan Retorika AS

Posisi AS terhadap Iran dipicu oleh protes dalam negeri yang besar dan tekanan politik yang meningkat di Washington untuk menindak Iran lebih jauh. Presiden AS baru‑baru ini menegaskan pemberlakuan tarif 25% terhadap negara yang melakukan perdagangan dengan Iran, langkah yang secara luas dipandang sebagai upaya menekan ekonomi Iran dan negara yang mendukungnya.

Tarif tersebut memicu reaksi tajam dari Beijing, mengingat China adalah salah satu mitra dagang utama Iran dan masih membeli minyaknya meskipun ada sanksi internasional. Ketergantungan energi dan hubungan dagang mendorong China untuk menentang pendekatan ekonomi dan politik semacam itu, serta menilai kebijakan AS berpotensi merusak stabilitas pasar global.

China sebagai Mediator Potensial?

Selama beberapa bulan terakhir, China telah berusaha mengadopsi peran diplomatik yang lebih menonjol di Timur Tengah. Beijing menyerukan gencatan senjata dan pendekatan dialog dalam konflik regional, termasuk di antara Israel dan Iran beberapa bulan lalu. China bahkan mengusulkan pembentukan kesepakatan internasional baru terkait isu nuklir Iran yang mencakup pengawasan internasional dan keterlibatan diplomatik lebih luas.

Namun, sementara sikap Beijing terlihat mendukung stabilitas, China tetap berhati‑hati untuk tidak terlibat secara langsung dalam konflik militer. Pendekatan ini mencerminkan strategi Beijing untuk mempertahankan hubungan baik dengan banyak aktor sekaligus menegaskan posisi netral namun kuat dalam sistem dunia multipolar yang berkembang.

Reaksi Internasional Lainnya

Berbagai pemimpin dunia dan organisasi internasional telah bereaksi terhadap eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Beberapa seruan mendesak agar segala bentuk konflik bersenjata dihindari dan diplomasi diutamakan, seiring dengan kekhawatiran terhadap dampak luas dari konflik yang meluas, yang dapat memengaruhi ekonomi dan keamanan global.

Uni Eropa, negara‑negara ASEAN, serta organisasi internasional lainnya menekankan pentingnya dialog daripada konfrontasi, sambil menyerukan agar negara‑negara besar memainkan peran konstruktif dalam meredakan ketegangan.

Dampak Terhadap Geopolitik Global

Permintaan China agar AS tidak ikut campur di Iran berpotensi memperdalam perpecahan strategis antara Washington dan Beijing di panggung global. Kedua kekuatan besar ini telah mengalami gesekan di berbagai front, mulai dari perdagangan hingga teknologi, dan isu Iran menambah dimensi baru yang sensitif terhadap hubungan bilateral mereka.

Sementara itu, peran China dalam isu‑isu Timur Tengah mencerminkan upaya Beijing untuk merumuskan posisinya sebagai kekuatan besar global yang mampu menantang kebijakan luar negeri tradisional yang dipimpin AS. Hal ini terjadi di saat dunia memasuki fase multipolar yang lebih kompleks dan penuh tantangan.

China Tegaskan Non‑Intervensi & Dukung Iran

Dalam pernyataan resminya, China menegaskan sikapnya yang mendukung Iran menjaga stabilitas internal dan menolak campur tangan AS. Sikap ini mencerminkan prinsip non‑intervensi yang dipegang Beijing serta dinamika geopolitik yang semakin rumit antara negara‑negara besar. Di tengah ketegangan global, pernyataan China bukan hanya soal dukungan bilateral, tetapi juga bagian dari strategi diplomatik yang lebih luas di panggung dunia yang terus berubah.