Solusi Cerdas Jepang Atasi Krisis Properti Satelit dan AI Berburu 9 Juta Rumah Terbengkalai!

Solusi Cerdas Jepang Atasi Krisis Properti Satelit dan AI Berburu 9 Juta Rumah Terbengkalai!

Rangkanarasi.com — Jepang tengah menghadapi salah satu tantangan properti terbesar dalam sejarahnya: meningkatnya jumlah akiya, yaitu rumah kosong yang ditinggalkan akibat penurunan populasi dan urbanisasi. Menurut data pemerintah Jepang, jumlah rumah kosong kini telah mencapai lebih dari 9 juta unit, atau sekitar 14% dari total hunian di negeri tersebut. Kondisi ini membuat banyak wilayah pedesaan tampak seperti kota hantu, dengan bangunan tua yang terbengkalai, tak terawat, dan berpotensi membahayakan lingkungan sekitar.

Masalah ini semakin pelik karena sebagian besar pemilik rumah sulit ditemukan. Banyak dari mereka telah pindah kota, meninggal dunia, atau tidak meninggalkan informasi pewaris yang jelas. Pemerintah daerah pun kesulitan melakukan penertiban, apalagi menjual aset tersebut tanpa status kepemilikan yang pasti.

Krisis akiya bukan sekadar persoalan estetika lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada stabilitas ekonomi, terutama di sektor properti dan pembangunan daerah. Rumah kosong memperburuk nilai tanah, menghambat regenerasi kota, serta menambah beban biaya perawatan dan pengawasan.

Untuk mengatasi kompleksitas masalah ini, Jepang mulai mencari terobosan baru yang lebih modern, cepat, dan efisien. Di sinilah teknologi berperan besar, membawa harapan baru dalam upaya pendataan dan pemanfaatan kembali rumah-rumah terbengkalai.

Salah satu langkah inovatif yang kini diambil adalah penggunaan satelit untuk mengidentifikasi lokasi rumah kosong di seluruh negeri. Pemerintah bekerja sama dengan beberapa perusahaan Teknologi Jepang untuk membuat pemetaan akurat menggunakan citra satelit resolusi tinggi.

Melalui pengamatan udara, kondisi bangunan dapat diketahui tanpa harus mengirim petugas survei secara manual. Satelit mampu menangkap perubahan warna atap, tingkat kerusakan dinding, vegetasi liar yang tumbuh di pekarangan, hingga perubahan struktur yang mencurigakan.

Data tersebut kemudian dipadukan dengan basis data kependudukan yang dimiliki pemerintah setempat untuk menyaring rumah mana yang benar-benar tidak berpenghuni dalam jangka waktu lama. Teknologi ini diyakini dapat memangkas waktu pendataan hingga 70%, serta menekan biaya operasional yang selama ini membebani otoritas lokal.

Tak berhenti pada satelit, Jepang juga memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menganalisis data visual dan administratif secara menyeluruh. AI dilatih menggunakan ribuan contoh citra rumah yang terawat dan terbengkalai, sehingga mampu mengidentifikasi tingkat kerusakan dengan akurasi sangat tinggi.

AI juga bisa memberikan rekomendasi lanjutan seperti:

  • apakah rumah masih layak diperbaiki,
  • apakah bangunan harus dibongkar demi keamanan,
  • atau apakah rumah potensial dijadikan aset untuk program revitalisasi penduduk muda.

Analisis otomatis ini membuat pemerintah lebih mudah menentukan prioritas dan langkah kebijakan, terutama untuk daerah-daerah berisiko tinggi yang kekurangan tenaga survei.

Dengan adanya pemetaan satelit dan AI, pemerintah Jepang berharap dapat mempercepat program Akiya Bank, yaitu platform penjualan rumah kosong dengan harga sangat murah bahkan kadang diberikan secara gratis. Program ini sebelumnya berjalan lambat karena minimnya data akurat tentang status legal kepemilikan rumah.

Ketika data kepemilikan sudah lebih jelas dan fisik rumah sudah terpetakan, rumah-rumah tersebut dapat dilelang kepada masyarakat, terutama generasi muda dan keluarga baru yang kesulitan membeli rumah di perkotaan.

Langkah ini diharapkan mampu:

  • menghidupkan kembali kawasan pedesaan,
  • mendongkrak kebutuhan tenaga kerja lokal,
  • serta menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi antar wilayah.

Sebelumnya, pemerintah daerah harus melakukan pengecekan rumah kosong dengan cara manual—mengunjungi satu per satu, mencatat kondisi bangunan, berbicara dengan warga, hingga menelusuri arsip kepemilikan yang sering kali tidak lengkap. Proses ini memakan waktu panjang, bahkan bisa bertahun-tahun.

Namun kini, dengan alat berbasis AI dan satelit:

  • data pemetaan dapat diperbarui setiap bulan,
  • status rumah bisa dipantau secara otomatis,
  • dan potensi bahaya seperti bangunan rawan roboh dapat segera ditindak.

Teknologi ini dipandang sebagai solusi paling efisien untuk mengatasi hambatan birokrasi yang selama puluhan tahun menghalangi penanganan akiya.

Inovasi ini diperkirakan akan berdampak luas, tidak hanya pada sektor properti. Revitalisasi rumah terbengkalai dapat membuka peluang baru di berbagai sektor:

  • industri konstruksi yang mendapat proyek renovasi rumah murah,
  • industri pariwisata dengan munculnya penginapan tradisional baru,
  • UMKM lokal yang hidup kembali seiring meningkatnya populasi,
  • serta pergerakan ekonomi daerah yang lebih seimbang.

Pakar ekonomi Jepang memprediksi bahwa pemanfaatan teknologi dalam menangani akiya dapat menjadi model baru solusi urbanisasi global, terutama bagi negara maju yang menghadapi populasi menua dan migrasi penduduk ke kota besar.

Menggunakan satelit dan kecerdasan buatan bukan hanya langkah strategis, tetapi juga simbol bagaimana Jepang menghadapi krisis dengan pendekatan futuristik. Alih-alih membiarkan wilayahnya terus menurun, pemerintah memilih memanfaatkan momen ini untuk mengembangkan teknologi yang dapat menjadi pedoman bagi negara lain.

Dengan 9 juta rumah terbengkalai yang kini mulai terpetakan dan dianalisis dengan lebih akurat, Jepang optimistis bahwa krisis properti ini bisa menjadi peluang bagi kebangkitan ekonomi regional dan terciptanya kehidupan komunitas yang lebih baik dan modern.