Pesanan Baru Tumbuh, tapi Bisnis Manufaktur RI Melesu Akhir 2025

Pesanan Baru Tumbuh, tapi Bisnis Manufaktur RI Melesu Akhir 2025

Rangka NarasiMenjelang akhir tahun 2025, sektor manufaktur Indonesia menunjukkan dinamika yang menarik dan penuh tantangan. Meski angka pesanan baru masih mencatat pertumbuhan, indikator utama lain dalam kegiatan industri justru merekam perlambatan produksi yang signifikan. Laporan S&P Global menunjukkan bahwa indeks PMI (Purchasing Managers’ Index) Manufaktur Indonesia pada Desember 2025 mencapai 51,2 poin, menandakan sektor masih di zona ekspansi, tetapi laju pertumbuhannya merosot dibanding bulan sebelumnya.

Fenomena ini menunjukkan adanya kontradiksi antara kenaikan pesanan baru dengan performa output produksi, yang menjadi tanda bahwa sektor manufaktur RI di akhir 2025 sedang menghadapi tekanan internal maupun eksternal.

Pesanan Baru Tetap Menunjukkan Optimisme

Salah satu aspek positif yang masih membayangi sektor manufaktur adalah pertumbuhan pesanan baru, meskipun dengan kecepatan yang lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya permintaan dari pasar domestik yang masih ada, meski tidak sekuat beberapa bulan sebelumnya. Data survei terakhir menunjukkan bahwa variabel pesanan baru masih berada di level ekspansi, walau pertumbuhannya melambat.

Kondisi ini memberi harapan bahwa permintaan tidak hilang total, tetapi pelaku industri masih waspada terhadap ketidakpastian permintaan global dan pembatasan ekspor. Pertumbuhan pesanan baru ini sering dilihat sebagai sinyal bahwa bisnis masih memiliki kesempatan untuk tumbuh, namun realisasinya bergantung pada kemampuan manufaktur untuk menjaga kinerja produksi dan distribusi.

Output Produksi yang Melemah Jadi Kekhawatiran Utama

Meski pesanan baru masih tumbuh, variabel yang lebih menggambarkan kinerja produksi justru mencatatkan perlambatan atau bahkan kontraksi di beberapa periode. Banyak perusahaan melaporkan bahwa walaupun mereka masih menerima pesanan, output atau volume produksi tidak meningkat signifikan karena beberapa faktor seperti keterbatasan bahan baku, kendala logistik, dan tinggi biaya produksi.

Situasi ini berdampak pada aktivitas manufaktur secara keseluruhan. Produksi yang stagnan atau melambat ini bikin sektor industri tidak mampu benar‑benar mengcapitalise permintaan yang masih ada, sehingga meskipun indeks masih di atas batas 50, pertumbuhannya jauh lebih lambat dibandingkan periode sebelumnya.

Indeks PMI Masih Ekspansif, Tapi Perlambatan Terasa

Nilai PMI di atas 50 biasanya menggambarkan pertumbuhan sektor manufaktur. Namun, meskipun PMI Manufaktur RI berada pada angka 51,2 pada Desember 2025, indeks ini menunjukkan penurunan dibanding poin yang lebih tinggi pada bulan sebelumnya, sehingga mencerminkan perlambatan laju ekspansi.

Permasalahan utama terlihat pada variabel output dan pengiriman, di mana banyak pelaku usaha melaporkan bahwa kapasitas produksi belum mampu menyamai lonjakan permintaan pesanan baru, terutama karena masalah pasokan bahan baku dan tekanan harga input. Hal ini mengakibatkan margin produsen tertekan sekaligus memperlambat laju produksi keseluruhan.

Faktor Eksternal dan Permintaan Ekspor yang Masih Tekan

Salah satu faktor yang membuat performa manufaktur melambat adalah permintaan ekspor yang masih lemah. Sementara pasar domestik menunjukkan peluang permintaan baru, permintaan dari luar negeri tidak meningkat signifikan atau bahkan terus lemah dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini membuat sebagian output yang diharapkan untuk pasar global tidak terpenuhi sepenuhnya, dan perusahaan cenderung menahan kapasitas produksi.

Tantangan lain yang turut mempengaruhi output produksi adalah ketidakpastian permintaan global, gangguan rantai pasok internasional, serta tekanan harga bahan baku impor. Semua faktor tersebut membuat manufaktur harus berhati‑hati dalam mengatur produksi agar tidak menghasilkan inventaris yang berlebihan.

Biaya Produksi dan Tekanan Harga Masih Tinggi

Selain masalah volume dan permintaan, pelaku manufaktur juga menghadapi tekanan biaya produksi yang relatif tinggi. Kenaikan harga bahan baku, biaya logistik, serta biaya tenaga kerja berdampak pada margin keuntungan. Kondisi biaya yang meningkat ini juga menjadi alasan perusahaan tidak dapat meningkatkan output secara agresif sekalipun pesanan baru meningkat.

Beberapa produsen bahkan melaporkan bahwa mereka menunda ekspansi output karena ketidakpastian tentang biaya yang harus ditanggung dan potensi perubahan permintaan di masa depan. Situasi ini mengakibatkan sektor manufaktur tidak dapat tumbuh secepat yang diharapkan meski ada sinyal permintaan baru.

Sentimen Pelaku Usaha dan Tantangan ke Depan

Meski menghadapi perlambatan di akhir 2025, sentimen pelaku usaha terhadap prospek jangka pendek tetap lebih optimis dibandingkan beberapa periode sebelumnya. Ini tercermin dari data yang menunjukkan bahwa optimisme para pelaku manufaktur mengenai kondisi 2026 menguat karena ekspektasi bahwa permintaan baru akan meningkat dalam beberapa bulan mendatang.

Namun demikian, pelaku usaha juga menyadari bahwa ketidakpastian ekonomi global, tekanan biaya, dan tantangan ekspor akan terus menjadi hambatan. Untuk mempertahankan momentum pertumbuhan yang positif, sektor manufaktur perlu lebih adaptif dalam merespons dinamika permintaan dan kondisi pasar internasional.

Pertumbuhan Pesanan Bukan Jaminan Output

Kondisi sektor manufaktur Indonesia pada penghujung 2025 menghadirkan gambaran yang kompleks: pertumbuhan pesanan baru menunjukkan adanya permintaan di pasar, namun output produksi yang melambat dan tekanan biaya membuat pertumbuhan sektor ini tampak melesu. Indeks PMI yang masih di atas ambang ekspansif menandakan bahwa kondisi masih positif secara umum, tetapi perlambatan yang terjadi perlu menjadi perhatian pelaku industri dan pembuat kebijakan.

Analisis ini menunjukkan bahwa pertumbuhan permintaan saja tidak cukup, jika manufaktur tidak memiliki kapasitas produksi dan ekosistem yang kuat—termasuk dukungan logistik, keterjangkauan bahan baku, dan daya saing ekspor—untuk mengubah pesanan baru menjadi output yang nyata. Di tengah momentum transisi ini, upaya memperkuat struktur produksi dan menanggapi tantangan biaya akan menjadi kunci agar sektor manufaktur Indonesia dapat bangkit lebih kokoh di 2026 dan seterusnya.